Langsung ke konten utama

Gerakan 1821

Gerakan 1821 adalah gerakan bersama yang mulai viral dipromosikan pada kuartal kedua 2016 ini. Berawal dari keprihatinan atas banyaknya tragedi yang terjadi pada anak-anak (baik sebagai pelaku maupun korban), yang ditengarai diakibatkan oleh kurangnya kemampuan anak-anak untuk bersosialisasi di dunia nyata tetapi sangat agresif dan aktif di dunia maya.

Sebuah pesan yang dibagikan di group diskusi saya mungkin bisa membantu kita mengerti dan menerapkan aspirasi masyarakat ini.

Ayah dan Bunda yang baik hati, khususnya yg mempunyai anak SMA ke bawah (SMP, SD, TK), 
betapa dasyatnya pengaruh HP terhadap perkembangan anak-anak kita. Anak-anak semakin egois, susah dikendalikan dan terkena dampak negatif lainnya.

Untuk itu mari kita lawan dengan Gerakan 1821

Apa itu "Gerakan 1821"? 


Gerakan 1821 adalah himbauan kepada para orangtua untuk melakukan puasa gadget/HP,
hanya 3 jam saja, yaitu mulai jam 18.00 s/d 21.00. 

Simpan dulu HP-nya Ayah, Bunda, Simpan dulu BB, Tab dan laptop nya. 
Temanilah anak-anak kita, hanya 3 jam saja.
Bersama mereka, dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa & raga kita.

Apa yang harus dilakukan selama 3 jam? Melaksanakan 3B yaitu 

Bermain, Belajar, Bicara (Ngobrol).
Iya, cuma 3 jam dan 3B saja. 

Bermain apa saja,boleh mainan tradisional, bermain petak umpet, tebak-tebakan, pokoknya apa saja sesuai dengan usia anak.
Bisa juga menemani mereka belajar. Belajar apa saja yg positif.

Bisa mengerjakan PR, belajar ilmu baru, berbagi pengalaman pengetahuan dan yang lainnya. 
Juga bisa diisi dengan banyak ngobrol. Bicara, bicara, dan bicara. 
Ajak anak-anak bicara. Topiknya bisa apa saja. Lebih utama bicara tentang mereka, pengalaman mereka, keinginan mereka, pokoknya apa saja.

Hanya 3B : 

Bermain, belajar, bicara, dan tidak semuanya harus dilakukan pada saat yang sama, bisa dijadwal dan dibuat se-enjoy mungkin. Bisa dikombinasikan. Pilih aktivitas yang nyaman dilakukan bersama.




Mari Ayah, ayo Bunda. 
Puasa gadget/HP dan  TV. 
Hanya 3 jam saja. 
Jam 18 s/d 21 saja!


Ingat ya. 1821!


Mari kita coba!  Semoga bermanfaat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Budaya Merdeka - Teks Pidato Soekarno

Entah 1 Juni 1945 atau ketika diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, Kemerdekaan Indonesia baru menjadi kenyataan ketika budaya merdeka yang sudah berabad-abad lamanya menyatu dalam perjuangan suku bangsa di Nusantara, menyeruak keluar, mencari bentuknya, dan menggelegar setiap kali diucapkan kata sakti itu: MERDEKA!!! Keberanian untuk merdeka inilah yang sepanjang zaman berdialektika dalam perjuangan suatu negara yang sekarang kita sebut dengan bangga sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Inilah saripati dari pidato Ir. Sukarno atau Bung Karno, presiden pertama sekaligus penggali Pancasila. Berikut isi lengkap transkrip pidato Bung Karno di hadapan sidang BPUPKI (sebelumnya PPKI) pada 1 Juni 1945.

Local Genius vs Evil Genius

Saban hari kita kerap mendengar wacana bahwa kearifan lokal kita sedang dalam ancaman modernisasi nirnilai. Tetapi, apa sebenarnya kearifan lokal kita? Terus terang, kearifan lokal ( local wisdom ), walau bukan sesuatu yang sangat kontroversial, seringkali disalahpahami sebagai sesuatu yang absolut. Menurut beberapa definisi, kearifan lokal adalah "gagasan-gagasan setempat (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya." (Kamus Inggris-Indonesia Shadily-Echols). Pandangan lain mengatakan "nilai yang dianggap baik dan benar yang berlangsung secara turun-temurun dan dilaksanakan oleh masyarakat yang bersangkutan sebagai akibat dari adanya interaksi antara manusia dengan lingkungannya” (Keraf, 2002; Gobyah, 2009). Yang menarik, Prof. Haryati Soebadio menganggap kearifan lokal memiliki ciri “mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri”. Senada dengan itu, Moenda...

Citra Diri Palsu Upin dan Ipin

All humans are just the same, until they are labeled. They are all image of god. (this also applies even for atheists, perhaps; They are image of the High Existence, the one that will do good to everybody else and everything that it makes or created, eventhough it is hardly founded in reality).  Saya Upin. Dia Ipin. Kami adalah sohib sejak kecil. Kami sama. Tetapi kami lalu bertengkar karena orang bilang kami berbeda. Cikgu di sekolah menyebut Ipin itu anak baik, sementara saya anak manis saja. Memang dia sedikit manja, sehingga teman-teman di sekolah menyebutnya anak mama. Aku anak Papa donk. Bahkan aku tidak mau dia seenaknya membaca buku yang baru aku beli kemarin. Lha, khan saya barusan beli buku itu, mestinya saya donk yang membaca duluan. Itu buku saya. Bukan apa. Ketika nenek datang, dia pamerin origami. "Nek, ini hasil karyaku", begitu katanya. Padahal bentuknya awut-awutan kayak gitu. "Tunggu saja tanggal mainnya", aku membatin. Kelak kalau...