All humans are just the same, until they are labeled. They are all image of god. (this also applies even for atheists, perhaps; They are image of the High Existence, the one that will do good to everybody else and everything that it makes or created, eventhough it is hardly founded in reality).
Saya Upin. Dia Ipin. Kami adalah sohib sejak kecil.Kami sama.
Tetapi kami lalu bertengkar karena orang bilang kami berbeda.
Cikgu di sekolah menyebut Ipin itu anak baik, sementara saya anak manis saja.
Memang dia sedikit manja, sehingga teman-teman di sekolah menyebutnya anak mama. Aku anak Papa donk.
Bahkan aku tidak mau dia seenaknya membaca buku yang baru aku beli kemarin. Lha, khan saya barusan beli buku itu, mestinya saya donk yang membaca duluan. Itu buku saya.
Bukan apa. Ketika nenek datang, dia pamerin origami.
"Nek, ini hasil karyaku", begitu katanya. Padahal bentuknya awut-awutan kayak gitu.
"Tunggu saja tanggal mainnya", aku membatin.
Kelak kalau aku dewasa, aku akan bekerja lebih keras dari dia supaya aku bisa beli mobil.
Nanti gantian aku yang dengan bangga mengucap keras di depannya:
"Nek, berkat doa nenek, kini aku diberi rizki yang baroqah. Ini mobil baru-ku nek".
Belakangan dia sewot.
Kudengar begitu dari istriku, istriku mendengar curhat dari istri si Ipin.
Kemudian dia mulai tampak menjauhiku.
Belakangan bahkan dia mulai membuat postingan yang entah apa maksudnya, tetapi namaku di-tag disana.
Disebutnya di status Blackberry Messenger-nya:
Mobilmu adalah mobilmu, motorku adalah motorku. Meski engkau kini berlimpah materi, tetapi kekafiranmu bukan tandingan buat agamaku, agama yang diberikan oleh Allahku sendiri.
Sampai disini, aku terhenyak.
Aku rindu dengan masa-masa kami dulu, bermain bersama.
Sebelum kami mengizinkan "label-label" itu merusak persahabatan kami.

Komentar
Posting Komentar