Langsung ke konten utama

Citra Diri Palsu Upin dan Ipin

All humans are just the same, until they are labeled. They are all image of god. (this also applies even for atheists, perhaps; They are image of the High Existence, the one that will do good to everybody else and everything that it makes or created, eventhough it is hardly founded in reality).



 Saya Upin. Dia Ipin. Kami adalah sohib sejak kecil.
Kami sama.
Tetapi kami lalu bertengkar karena orang bilang kami berbeda.
Cikgu di sekolah menyebut Ipin itu anak baik, sementara saya anak manis saja.
Memang dia sedikit manja, sehingga teman-teman di sekolah menyebutnya anak mama. Aku anak Papa donk.
Bahkan aku tidak mau dia seenaknya membaca buku yang baru aku beli kemarin. Lha, khan saya barusan beli buku itu, mestinya saya donk yang membaca duluan. Itu buku saya.
Bukan apa. Ketika nenek datang, dia pamerin origami.
"Nek, ini hasil karyaku", begitu katanya. Padahal bentuknya awut-awutan kayak gitu.
"Tunggu saja tanggal mainnya", aku membatin.
Kelak kalau aku dewasa, aku akan bekerja lebih keras dari dia supaya aku bisa beli mobil.
Nanti gantian aku yang dengan bangga mengucap keras di depannya:
"Nek, berkat doa nenek, kini aku diberi rizki yang baroqah. Ini mobil baru-ku nek".

Belakangan dia sewot.
Kudengar begitu dari istriku, istriku mendengar curhat dari istri si Ipin.

Kemudian dia mulai tampak menjauhiku.
Belakangan bahkan dia mulai membuat postingan yang entah apa maksudnya, tetapi namaku di-tag disana.

Disebutnya di status Blackberry Messenger-nya:

Mobilmu adalah mobilmu, motorku adalah motorku. Meski engkau kini berlimpah materi, tetapi kekafiranmu bukan tandingan buat agamaku, agama yang diberikan oleh Allahku sendiri.

Sampai disini, aku terhenyak.

Aku rindu dengan masa-masa kami dulu, bermain bersama.
Sebelum kami mengizinkan "label-label" itu merusak persahabatan kami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Budaya Merdeka - Teks Pidato Soekarno

Entah 1 Juni 1945 atau ketika diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, Kemerdekaan Indonesia baru menjadi kenyataan ketika budaya merdeka yang sudah berabad-abad lamanya menyatu dalam perjuangan suku bangsa di Nusantara, menyeruak keluar, mencari bentuknya, dan menggelegar setiap kali diucapkan kata sakti itu: MERDEKA!!! Keberanian untuk merdeka inilah yang sepanjang zaman berdialektika dalam perjuangan suatu negara yang sekarang kita sebut dengan bangga sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Inilah saripati dari pidato Ir. Sukarno atau Bung Karno, presiden pertama sekaligus penggali Pancasila. Berikut isi lengkap transkrip pidato Bung Karno di hadapan sidang BPUPKI (sebelumnya PPKI) pada 1 Juni 1945.

Local Genius vs Evil Genius

Saban hari kita kerap mendengar wacana bahwa kearifan lokal kita sedang dalam ancaman modernisasi nirnilai. Tetapi, apa sebenarnya kearifan lokal kita? Terus terang, kearifan lokal ( local wisdom ), walau bukan sesuatu yang sangat kontroversial, seringkali disalahpahami sebagai sesuatu yang absolut. Menurut beberapa definisi, kearifan lokal adalah "gagasan-gagasan setempat (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya." (Kamus Inggris-Indonesia Shadily-Echols). Pandangan lain mengatakan "nilai yang dianggap baik dan benar yang berlangsung secara turun-temurun dan dilaksanakan oleh masyarakat yang bersangkutan sebagai akibat dari adanya interaksi antara manusia dengan lingkungannya” (Keraf, 2002; Gobyah, 2009). Yang menarik, Prof. Haryati Soebadio menganggap kearifan lokal memiliki ciri “mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri”. Senada dengan itu, Moenda...