Di kota kecil Pematangsiantar, ada SMU berasrama yang cukup lama menjadi primadona bagi para putra-putra beragama Katolik. Konon, sekolah yang hingga kini masih fokus pada misi pembinaan calon-calon imam bagi Gereja Katolik terutama Keuskupan Agung Medan ini berhasil menanamkan semangat pendidikan berbasis nilai hidup, bukan sekedar nilai kertas. Hal ini terpatri dalam motto mereka: Non Scholae sed Vitae Discimus Kembali soal nilai. Pertanyaan sederhana yang masih belum mendapatkan jawaban final hingga saat ini dari teman masa kecil saya, terbersit kembali: "Ho ma jo. Husukkun ma ho. Aha do sabotulna tujuanni parsikkolaan. Aha do guna ni sikkola"? Jawabannya bisa beragam jika ditujukan kepada masing-masing orang. Saat ini, ada zaman dimana seorang anak Indonesia bahkan lebih hafal karakter manga Jepang dan lebih mahir menggunakan seabrek aplikasi di mobile device daripada "rasa keindonesiaan" yang dirumuskan dalam IPolEkSosBudHanKam, hamp...