Langsung ke konten utama

NILAI - Antara Kertas dan Hidup

Di kota kecil Pematangsiantar, ada SMU berasrama yang cukup lama menjadi primadona bagi para putra-putra beragama Katolik. Konon, sekolah yang hingga kini masih fokus pada misi pembinaan calon-calon imam bagi Gereja Katolik terutama Keuskupan Agung Medan ini berhasil menanamkan semangat pendidikan berbasis nilai hidup, bukan sekedar nilai kertas.

Seminari


Hal ini terpatri dalam motto mereka:
Non Scholae sed Vitae Discimus

Kembali soal nilai. Pertanyaan sederhana yang masih belum mendapatkan jawaban final hingga saat ini dari teman masa kecil saya, terbersit kembali:

"Ho ma jo. Husukkun ma ho. Aha do sabotulna tujuanni parsikkolaan. Aha do guna ni sikkola"?

Jawabannya bisa beragam jika ditujukan kepada masing-masing orang. Saat ini, ada zaman dimana seorang anak Indonesia bahkan lebih hafal karakter manga Jepang dan lebih mahir menggunakan seabrek aplikasi di mobile device daripada "rasa keindonesiaan" yang dirumuskan dalam IPolEkSosBudHanKam, hampir pasti  bahwa butuh komunikasi yang lebih intens untuk menyambungkan generasi baby boomer, Gen Y dan gen X yang melek digital ini. Buat saya: Komunikasi NILAI. Ketika hampir semua informasi bisa diakses dari mana saja, hanya ada ruang "kecil" bagi nasihat, anjuran, petuah, etika dan norma (yang dulu adalah harga mati) untuk mereka dengarkan.

Misalnya: Seorang anak tidak lagi perlu disuruh menghafal "Katekismus Na Metmet" untuk dianggap lulus test "sikkola minggu" dan ikut bilangan orang dewasa. Kemungkinan mereka tidak akan mau lagi. Alih-alih memaksa mereka untuk takut akan Tuhan (fear of God) dan perintahNya, mereka punya senjata karena berteman dengan Google (friend of Google), yang bahkan lebih bermurah hati memberi mereka jawaban atas banyak hal dalam tempo yang lebih cepat dari si God; bahkan tanpa perlu berdoa pula. [caption id="" align="aligncenter" width="236"]

 

Sebagian teman tidak lagi mengamini pesan di gambar ini; mereka menyatakan yakin bahwa Google lebih berkuasa daripada "imaginary" God.


Ruang kecil yang dimaksud adalah Anda sendiri yang harus MENUNJUKKAN kepada mereka bahwa si God jauh lebih berkuasa daripada Google (mudah-mudahan Larry Page, Sundar Pichai dan Sergey Brin tidak besar kepala jika membaca ini). 


Menunjukkan berarti anda tidak sendiri yang MELAKSANAKAN NILAI itu terlebih dahulu. Pun tidak ada jaminan bahwa mereka akan segera menangkap nilai yang Anda coba tanamkan. Tetapi setidaknya sebagian, iya. Seperti postingan reflektif dari Yasa Singgih yang saya peroleh dari sebuah group milis ini.


Saya tidak terlahir di keluarga yang sangat kaya, namun juga tidak berasal dari keluarga yang susah. Keluarga kami berkecukupan & sederhana. 

Tapi saya akui bahwa saya berasal dari keluarga yang menurut saya sangat kaya akan nilai nilai kehidupan. Papa saya adalah seorang karyawan dengan segudang aktivitas sosialnya yang sangat padat, beliau aktif membangun Yayasan Sutra Bakti yaitu sebuah Yayasan Sosial yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi desa, program bedah rumah bagi warga kurang mampu di berbagai daerah & bantuan kesehatan untuk orang tidak mampu yang sedang sakit. 

Mama saya adalah seorang karyawan teladan sekaligus Ibu Rumah Tangga yang sangat luar biasa, beliau rutin memasak Indomie setiap hari Minggu untuk ketiga anaknya. Mereka bukan orang tua yang sempurna, namun mereka orang tua yang terbaik bagi anak-anaknya. Ada satu kejadian yang tidak akan saya lupa seumur hidup saya. Yaitu kejadian saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, kalau tidak salah saat kelas 3 SD. 

Dari TK sampai dengan SD, saya selalu mendapatkan juara kelas. Sering kali mendapatkan juara 1 dan beberapa kali mendapatkan juara umum yang membuat saya dibebaskan dari biaya uang sekolah. Disaat banyak anak lain takut mengambil raport, saya tidak pernah takut. Saya yakin saya pasti dapat juara lagi. Pun pada saat mendapatkan juara, saya tidak bergembira berlebihan. Biasa saja. Disaat teman saya mendapatkan hadiah disaat ulangannya mendapat nilai bagus, saya hanya mendapatkan semangkuk bakmie dan segelas es cendol atas hadiah kerja keras sepanjang tahun menjadi juara 1 di kelas.

Sampai suatu hari momen tak terlupakan sepulang ambil rapot di mobil bersama Papa saya. 

Beliau bertanya seperti ini, “Hari ini kamu dapet juara 1 lagi ya?” Dengan santai saya jawab, “Iyaaa Pa…” 

 Lalu Papa saya melanjutkan,

“Sebenernya Papa ngga pernah minta apalagi maksa kamu untuk jadi Juara 1 di sekolah”.Mendengar itu saya hanya terdiam saja. Papa melanjutkan, “Iya, sebenernya kalo buat Papa nilai 6 atau 7 juga udah cukup, yang penting naik kelas aja supaya kamu ngga rugi waktu. Tapi kalo kamu ngga naik kelas pun Papa ngga akan marah, kamu cuma rugi waktu, Papa rugi uang. Tapi kamu bisa dapet temen lebih banyak lagi. Sekolah itu intinya bukan nilai di atas kertas, karena ngga semua nilai di atas kertas bisa kamu gunakan di kehidupan. Di sekolah kamu belajar lalu kamu dapet ujian tapi di kehidupan kamu dapet ujian lalu belajar dari ujian tersebut. Sekolah tetep penting, tapi esensi dari sekolah adalah pendewasaan diri. Ibaratnya SD itu kamu masih di aquarium, nanti SMP kamu lompat ke kolam ikan, SMA kamu lompat ke danau, kuliah kamu lompat ke lautan dan begitu seterusnya kamu akan lompat ke dunia yang lebih besar. Jadi, yang penting itu di sekolah kamu harus punya banyak temen dan bergaul yang pintar. Kalo ada temen kamu di sekolah yang dimusuhin, kamu harus temenin dia. Kalo ada temen kamu yang ngga bisa bergaul, bantu dia bergaul. Tolong orang sebanyak-banyaknya, baik dan ramah sama semua orang maka suatu hari kamu pasti ditolong baik sama mereka” begitu kata Papa saya. 

 Mendengar nasehat tersebut, saya hanya diam saja sambil menganggukkan kepala. Pada saat itu saya belum bisa mencerna nasehat tersebut dengan baik. Saya hanya menangkap bahwa saya harus jadi orang baik dan pintar bergaul sama banyak orang. Itu saja. Selebihnya saya tidak menangkap maksud Papa saya. Namun, memang setelah nasehat tersebut hidup saya berubah. SMP – SMA saya tidak sepintar saat SD lagi, karena saya merasa pintar dalam sosial jauh lebih penting daripada pintar secara akademis. Apalagi banyak pelajaran yang saya tidak suka. 

Masuk ke kuliah, saya tidak sebodoh saat SMP – SMA. Karena saya memilih jurusan yang saya suka, maka saya tidak kesulitan untuk menjadi mahasiswa yang pintar secara akademis dan juga sosial. Mungkin disaat usia saya 20 tahunlah saya baru benar benar mengerti seluruh nasehat yang Papa saya berikan pada sata beberapa tahun yang lalu. Disaat – saat inilah saya baru menangkap apa yang diajarkan oleh Papa Mama saya selama ini tentang kehidupan secara tidak langsung. 

Dari kecil, saya dan kakak-kakak saya dibesarkan dengan gaya hidup yang sederhana. Keluarga kami terbiasa makan nasi uduk di kaki lima ataupun nasi goreng tek tek di pinggir jalan. Makanan favorit keluarga kami adalah Nasi Goreng Bang Jen di Cipulir atau Nasi Uduk Favorit di Tangerang. 

Bagi kami kedua makanan tersebut jauh lebih nikmat dibanding restoran manapun. Kami diajarkan untuk tidak membeli barang yang harganya berlebihan & kami diajarkan untuk makan di tempat yang sewajarnya disaat punya uang sekalipun. Papa Mama saya tidak pernah bertanya kepada saya, “Yasa, gimana ulangan MAT kemaren?” sepulang sekolah. Pertanyaan yang mereka tanyakan adalah:
“Ada yang seru ngga di sekolah hari ini?” “Yas, kamu udah punya pacar belom sih? Ada yang cakep ngga?” “Siapa guru yang ngajarnya paling enak?”, “Siapa temen yang baik di sekolah?”
Bahkan sebuah peraturan unik dibuat oleh Papa saya, kalau saya punya pacar maka saya ditambahkan uang jajan katanya. Hal unik berikutnya, orang yang pertama kali memberikan saya kesempatan mencicipi rokok adalah Papa saya. Orang yang pertama kali memberikan saya kesempatan mencicipi alkohol pun juga Papa saya. Namun anehnya, sampai hari ini saya bukan dan tidak pernah menjadi perokok dan bukanlah peminum alkohol. 

Akibat hal tersebut, saya menganggap esensi pendidikan bukanlah sekedar nilai diatas kertas. Sangat disayangkan jika orang tua menuntut anak berdasarkan nilai diatas kertas, bukan proses pembelajaran dari setiap kejadian. Alhasil, anak hanya fokus pada hasil tanpa memperhatikan proses pembelajaran. Apa yang didapat? Nol besar. 

Orang tua juga sering kali memaksakan kehendak dirinya pada anak, bahkan ada juga yang meminta anak punya mimpi yang sama dengan dirinya tanpa memperdulikan hasrat sang anak. Saya masih ingat di akhir SMA disaat rata rata teman saya sedang bingung memilih jurusan apa yang paling bagus atau jurusan apa yang paling cepat dapat kerja, Papa Mama saya tidak menyarankan apa apa selain, “Pilih yang kamu nikmat ngejalaninnya…” 

Saya juga bersyukur keluarga saya mendidik saya dengan gaya hidup yang sederhana, secara tidak langsung saya diajarkan untuk menjadi anak yang siap hidup dalam segala situasi. Papa Mama saya mengajarkan saya etika yang baik saat berada di tempat yang mewah, namun mengajarkan saya untuk siap jika suatu saat hidup sedang berada di posisi yang keras. Saya dibentuk untuk menjadi anak yang siap kaya namun juga siap miskin. Saya belajar bahwa kualitas diri manusia tidak dinilai dari apa yang ia kenakan di luar, melainkan dari apa yang ada di dalam dirinya. Dari begitu banyaknya kegiatan sosial yang dijalankan oleh Papa saya, saya juga belajar banyak bahwa untuk memberikan dampak buat banyak orang tidak perlu menunggu menjadi orang yang mampu melainkan kita hanya perlu menjadi orang yang MAU. 

Dari kesederhanaan Mama saya, saya belajar bahwa anak tidak bangga pada orang tuanya yang tampil cantik ataupun terlihat kaya, melainkan kepada orang tua yang mampu mendidik anaknya menjadi manusia yang lebih beradab dan beretika. Sedikit pesan untuk para orang tua. Tugas utama orang tua bukanlah memberikan uang, anak tidak butuh uang. Orang tua adalah pendidik, yang harusnya menciptakan manusia berkualitas, beretika, bernilai, berdaya yaitu anaknya. 

Untuk mendidik anak seperti itu, butuh waktu, butuh kasih sayang, butuh moral, butuh nilai nilai kehidupan, bukan uang. Tidak perlu sibuk mencari uang agar dapat meninggalkan warisan uang yang banyak untuk anak, jika orang tua mendidiknya dengan benar maka anak itu dapat menciptakan uang jauh lebih banyak daripada jumlah yang orang tua harapkan. Anak adalah cerminan orang tua. Kebanggaan terbesar orang tua adalah saat anaknya berhasil menjadi manusia yang berkualitas, berdaya dan bermanfaat. Pesan untuk anak, tidak semua orang tua mampu mengajarkan pendidikan moral ataupun nilai nilai kehidupan secara langsung. 

Namun ketahuilah bahwa perjuangan orang tua kita begitu luar biasa, intensi mereka begitu baik untuk masa depan anaknya. Kita tidak perlu mencari motivasi hidup di luar sana, belajarlah dari perjalanan kehidupan orang tua kita berusaha menghidup kita. Saya yakin ada sebuah cerita inspiratif yang kita temukan disana. Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun belum tentu yang diinginkan orang tua juga diinginkan anak. Maka yang dibutuhkan adalah komunikasi yang baik dan terbuka. Orang tua harus mampu memberikan kepercayaan & anak harus mampu bertanggung jawab atas kepercayaan yang telah diberikan. 

Dan cara terbaik untuk membangun hubungan yang baik antara orang tua dan anak adalah menginvestasikan WAKTU masing masing untuk saling terbuka & dihabiskan bersama. Saya bersyukur atas semua nilai kehidupan yang orang tua saya ajarkan pada saya. Itulah yang menjadikan Yasa Singgih pada hari ini. Apabila suatu saat saya menjadi orang yang sukses, apresiasi tertinggi hanya pantas diberikan untuk orang yang menjadikan saya seperti hari ini yaitu Papa Mama saya. Bersyukurlah bukan karena kita terlahir di keluarga yang kaya, namun bersyukurlah karena kita terlahir di keluarga yang penuh nilai nilai kehidupan. Jika suatu saat nanti mereka tiada, saya tidak akan meminta warisan berbentuk materi apapun dari mereka. Seluruh pelajaran kehidupan yang mereka berikan selama ini, sudah lebih dari cukup.

Don’t try to become a man of success.
Just try to become a man of value. Success will follow you.

Cinta saya untuk Papa Mama,

Yasa Singgih 14 Juni 2016


Saat ini Yasa Singgih aktif menjadi pembicara di vihara-vihara. Sementara saya dan beberapa teman lebih memilih untuk nongkrong dan mencoba menyambungkan asa yang terlanjur tertanam di kelompok kecil kami bahwa melewatkan momen bersama itu sangat penting, kendatipun betapa sibuknya. Kendatipun masing-masing tahu bahwa "This too, shall pass".


Semmen 

 (Seperti aslinya di DonaldHaromunte.Com)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Budaya Merdeka - Teks Pidato Soekarno

Entah 1 Juni 1945 atau ketika diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, Kemerdekaan Indonesia baru menjadi kenyataan ketika budaya merdeka yang sudah berabad-abad lamanya menyatu dalam perjuangan suku bangsa di Nusantara, menyeruak keluar, mencari bentuknya, dan menggelegar setiap kali diucapkan kata sakti itu: MERDEKA!!! Keberanian untuk merdeka inilah yang sepanjang zaman berdialektika dalam perjuangan suatu negara yang sekarang kita sebut dengan bangga sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Inilah saripati dari pidato Ir. Sukarno atau Bung Karno, presiden pertama sekaligus penggali Pancasila. Berikut isi lengkap transkrip pidato Bung Karno di hadapan sidang BPUPKI (sebelumnya PPKI) pada 1 Juni 1945.

Local Genius vs Evil Genius

Saban hari kita kerap mendengar wacana bahwa kearifan lokal kita sedang dalam ancaman modernisasi nirnilai. Tetapi, apa sebenarnya kearifan lokal kita? Terus terang, kearifan lokal ( local wisdom ), walau bukan sesuatu yang sangat kontroversial, seringkali disalahpahami sebagai sesuatu yang absolut. Menurut beberapa definisi, kearifan lokal adalah "gagasan-gagasan setempat (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya." (Kamus Inggris-Indonesia Shadily-Echols). Pandangan lain mengatakan "nilai yang dianggap baik dan benar yang berlangsung secara turun-temurun dan dilaksanakan oleh masyarakat yang bersangkutan sebagai akibat dari adanya interaksi antara manusia dengan lingkungannya” (Keraf, 2002; Gobyah, 2009). Yang menarik, Prof. Haryati Soebadio menganggap kearifan lokal memiliki ciri “mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri”. Senada dengan itu, Moenda...

Citra Diri Palsu Upin dan Ipin

All humans are just the same, until they are labeled. They are all image of god. (this also applies even for atheists, perhaps; They are image of the High Existence, the one that will do good to everybody else and everything that it makes or created, eventhough it is hardly founded in reality).  Saya Upin. Dia Ipin. Kami adalah sohib sejak kecil. Kami sama. Tetapi kami lalu bertengkar karena orang bilang kami berbeda. Cikgu di sekolah menyebut Ipin itu anak baik, sementara saya anak manis saja. Memang dia sedikit manja, sehingga teman-teman di sekolah menyebutnya anak mama. Aku anak Papa donk. Bahkan aku tidak mau dia seenaknya membaca buku yang baru aku beli kemarin. Lha, khan saya barusan beli buku itu, mestinya saya donk yang membaca duluan. Itu buku saya. Bukan apa. Ketika nenek datang, dia pamerin origami. "Nek, ini hasil karyaku", begitu katanya. Padahal bentuknya awut-awutan kayak gitu. "Tunggu saja tanggal mainnya", aku membatin. Kelak kalau...